Redaksi Banten, LEBAK — Suara-suara yang selama ini tersimpan dalam ruang hati akhirnya menemukan jalannya untuk didengar. Kamis (11/6/2026), Pesantren Modern Nurul Madaany menggelar Peluncuran dan Bincang Buku Rumah dan Cerita yang Tak Pernah Diceritakan, sebuah perayaan literasi yang mempertemukan karya guru dan siswa dalam satu panggung apresiasi.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak, pimpinan pesantren, pengurus yayasan, guru, siswa, dan orang tua tersebut menjadi penanda tumbuhnya budaya menulis yang selama bertahun-tahun dirawat di lingkungan Pesantren Modern Nurul Madaany.
Dua buku yang diluncurkan hadir dengan warna yang berbeda. Buku ‘Rumah’ berisi refleksi para guru tentang keluarga, pendidikan, pengabdian, dan perjalanan hidup yang membentuk mereka sebagai pendidik. Sementara buku berjudul Cerita yang Tak Pernah Diceritakan memuat kisah-kisah personal karya siswa kelas IX SMP Nurul Madaany yang selama ini hanya tersimpan dalam ingatan dan perasaan mereka.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak, Doddy Irawan, turut membedah kedua buku dan menyampaikan apresiasinya terhadap gerakan literasi yang tumbuh di lingkungan pesantren.
“Saya bermimpi suatu hari nanti Kabupaten Lebak dikenal bukan hanya karena kekayaan alam dan budayanya, tetapi juga karena kekuatan literasinya. Kita ingin melihat sekolah-sekolah melahirkan penulis muda, guru-guru yang produktif berkarya, serta masyarakat yang menjadikan membaca dan menulis sebagai kebutuhan hidup. Hari ini, Pesantren Modern Nurul Madaany telah menunjukkan bahwa mimpi besar itu bukan sesuatu yang mustahil,” ujarnya.
Menurut Doddy, kemampuan menulis merupakan salah satu keterampilan penting yang harus dimiliki generasi masa depan karena melalui tulisan seseorang dapat menyampaikan gagasan, membangun empati, sekaligus memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Program literasi yang dikembangkan Pesantren Modern Nurul Madaany selama tujuh tahun terakhir telah melahirkan berbagai karya siswa dan guru. Peluncuran dua buku tersebut menjadi bukti bahwa sekolah dan pesantren dapat menjadi ruang yang subur bagi lahirnya kreativitas, keberanian berpikir, serta karakter yang kuat.
Ketua Yayasan PODIUMM, H. Agus Sutisna, dalam amanatnya mengingatkan bahwa para penulis muda yang hari ini meluncurkan karya memiliki peran penting dalam membangun masa depan.
“Sebagai penulis, kelak kalian akan menjadi mata rantai dakwah dan peradaban. Kalian adalah generasi yang merawat warisan ilmu sekaligus mengembangkannya untuk kepentingan umat, bangsa, negara, dan kemanusiaan. Apa yang kalian tulis hari ini mungkin sederhana, tetapi suatu saat dapat menjadi ilmu yang menginspirasi, menggerakkan, bahkan mengubah kehidupan banyak orang,” pesannya.
Sementara itu, Pimpinan Pesantren Modern Nurul Madaany, KH. Abdullah Alhadad, menyampaikan apresiasi kepada seluruh guru dan siswa yang telah berani menuangkan gagasan, pengalaman, dan perasaan mereka ke dalam tulisan.
“Untuk para penulis, terima kasih karena telah memilih menulis ketika banyak orang memilih diam. Melalui setiap kata yang lahir dari pemikiran dan ketulusan, kalian telah meninggalkan jejak yang mungkin tidak pernah kalian sadari betapa besar manfaatnya bagi orang lain. Sebab tulisan yang baik tidak hanya dibaca, tetapi juga hidup dalam ingatan, menggerakkan hati, dan menjadi jalan kebaikan yang terus mengalir,” tuturnya.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan sesi bincang buku dan diskusi interaktif yang membahas proses kreatif penulisan, pentingnya budaya membaca, serta peran literasi dalam membangun karakter generasi muda.
Penanggung Jawab Program Literasi Pesantren Modern Nurul Madaany, Pipit Piharsih, mengatakan bahwa setiap karya yang lahir dari tangan guru dan siswa merupakan bukti bahwa setiap manusia memiliki cerita yang layak untuk didengar.
“Setiap buku yang lahir dari tangan siswa dan guru adalah bukti bahwa setiap manusia memiliki cerita yang layak didengar. Tugas kami bukan menciptakan penulis, melainkan membantu mereka menemukan suaranya. Ketika seorang anak berani menulis kisahnya dan seorang guru berani membagikan refleksinya, saat itulah literasi sedang membentuk karakter, empati, dan keberanian untuk memberi makna bagi kehidupan,” ujarnya.
Peluncuran Rumah dan Cerita yang Tak Pernah Diceritakan bukan sekadar perayaan terbitnya dua buku. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi penegasan bahwa literasi adalah ruang tempat pengalaman bertemu makna, tempat keberanian menemukan suara, dan tempat generasi muda belajar meninggalkan jejak yang akan terus hidup melalui tulisan.

















